Pendidikan

PSIKOLOGI HUMANISTIK ABRAHAM MASLOW

PSIKOLOGI HUMANISTIK ABRAHAM MASLOW

PSIKOLOGI HUMANISTIK ABRAHAM MASLOW

Abraham Maslow adalah peletak dasar dan “Bapak” yang telah membesarkan Psikologi Humanistik. Aliran Humanistik, disebut-sebut sebagai Mazhab ketiga dalam perkembangan psikologi ini, lahir sebagai reaksi atas teori-teori Behaviorisme (kental dengan sifat behavioristik, asosianistik dan eksperimental) dan Psikoanalisis (depth psychology dengan sifat klinis-pesimistik). Pemikiran Maslow bukanlah penolakan mentah-mentah terhadap karya para Freudian dan Behavioris. Melainkan lebih ke suatu telaah terhadap sisi-sisi yang lebih bermanfaat, bermakna dan dapat diterapkan bagi kemanusiaan, yang kemudian menjadi titik tolak bagi pengembangannya.

Maslow memandang bahwa teori-teori yang berkembang sebelumnya tidak memecahkan masalah-masalah kemanusiaan secara menyeluruh. Behaviorisme tidak memberikan tempat yang sistematis bagi elemen-elemen “yang lebih tinggi” dari kepribadian, seperti altruisme, kecantikan dan pencarian kebenaran. Sedangkan psikoanalisis melihatnya dengan pendekatan yang “sinis” dan menganalisisnya dengan cara yang reduktif serta pesimistik. Freud dan kaum instingtif lainnya cenderung mengabaikan proses belajar secara asosiasi dan tingkah laku stimulus respon, sementara kaum behavioris secara dogmatis cenderung menolak segala bentuk naluri, baik ataupun buruk. Menurut Maslow, teori menyeluruh tentang tingkah laku manusia harus mencakup determinan internal (intrinsic behavior) dan determinan eksternal. Studi obyektif semata tentang tingkah laku manusia belumlah cukup, segi-segi subyektifnyapun perlu dipertimbangkan. Perasaan, keinginan, harapan, aspirasi individu harus dipertimbangkan dalam memperoleh pemahaman tingkah laku secara menyeluruh.

Teori Maslow menekankan pentingnya kesadaran akan perbedaan individu, dengan memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan. Menggali dan menemukan sisi-sisi kemanusiaan, pada taraf tertentu akan sampai pada penemuan diri. Proses belajar yang ada pada diri manusia adalah proses untuk sampai pada aktualisasi diri (learning how to be)Belajar adalah mengerti dan memahami siapa diri anda, bagaimana menjadi diri anda, apa potensi yang anda miliki, gaya apa yang anda miliki, apa langkah-langkah yang anda ambil, apa yang anda rasakan, nilai-nilai apa yang anda miliki dan yakini, kearah mana perkembangan anda akan menuju. Belajar di satu sisi adalah memahami bagaimana anda berbeda dengan yang lain (individual differences), dan di sisi lain adalah memahami bagaimana anda menjadi manusia samaseperti manusia yang lain (persamaan dalam specieshood or humanness).

Konsep belajar Maslow menolak proses yang disandarkan pada generality of repetition dan learning by drilling. Pengajar bukanlah pengkondisi, pemerkuat dan boss bagi proses pendidikan individu, dengan menentukan apa yang baik baginya. Guru adalah pihak yang membantu individu membuka sisi-sisi dirinya yang belum mengemuka, mengenali apa yang dimiliki, berkembang dengan caranya sendiri, dengan kata lain, guru harus menerima individu apa adanya dan menolong memahami siapa dirinya. Sedapat mungkin pengajar mengarahkan setiap langkah pembelajaran kepada pengalaman puncak (peak-experiences), yang membuat individu menerima dan menikmati dirinya, perkembangan yang dia lalui dan aktualisasi dirinya.

Untuk memperkuat teorinya Maslow memaparkan beberapa konsep yang mendasarkan diri pada motivasi sebagai penggerak perilaku individu. Motivasi menggerakkan individu sebagai keseluruhan yang padu dan teratur, motivasi menggerakkan seluruh pribadi bukan sebagian dari pribadi. Sehingga setiap tindakan sadar tidak hanya memiliki satu motivasi penggerak.

Baca Juga :