Pendidikan

Pembahasan konsep apapun selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian

Pembahasan konsep apapun selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian

Pembahasan konsep apapun selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian

Pembahasan konsep apapun selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian

Fikri: Pembahasan konsep apapun selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara tekhnis, guna menangkap substansi makna yang terkandung dalam konsep tersebut, apa definisi Salaf ? dan bagaimana kata Salaf di pakai yang secara semantik bisa di usut maknanya ?

USTADZ: Salaf secara bahasa maknanya ialah pendahulu dalam artian generasi yang terdahulu atau lebih dulu dari generasi yang sedang hidup. Maka dalam pengertian bahasa, Salaf itu adalah episode sejarah yang telah berlalu.

Adapun pengertian Salaf dalam kancah pemahaman Islam adalah ringkasan dari kata “As-Salafus Shalih” yang maknanya ialah generasi pendahulu kita yang shalih atau dengan kata lain generasi pendahulu kita yang menjadi teladan pemahaman dan pengamalan Islam secara kaaffah (menyeluruh, red). Dalam perspektif ini Salaf artinya ialah generasi terbaik termulia bagi umat Islam. Generasi yang dimaksud disini dalam sejarah Islam adalah generasi para Shahabat Nabi ridwanullaah ‘alaihim ‘ajma’iin dan para Tabi’in serta Tabi’it Tabi’in.

Fikri: Siapa yang di maksud dengan generasi Shahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in disini ?

USTADZ: Generasi Shahabat Nabi itu adalah generasi yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan beriman kepada beliau serta mati di atas Islam. Dalam pengertian ini, tidak dianggap generasi Shahabat Nabi kalangan munafiqin yang berbuat kemunafikan di zaman Nabi Muhammad sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam meskipun mereka mengaku secara lisan bahwa mereka telah beriman kepadanya, atau bahkan mereka sholat lima waktu di belakang beliau sebagai ma’mum dan bahkan berjihad di medan perang bersama beliau. Namun orang yang demikian ini tidak di anggap Shahabat Nabi karena mereka hanya menampilkan keimanan secara dzohir dan menyembunyikan kekafiran didalam bathinnya.

Para Tabi’in adalah adalah generasi kedua dalam sejarah Islam dimana mereka ini telah belajar tentang Islam dari para Shahabat Nabi dan beriman kepadanya serta mati di atas Islam. Namun ketika mereka menginjak usia baligh Nabi telah wafat meninggalkan dunia ini sehingga mereka tidak sempat mendapatkan ilmu secara langsung dari Nabi. Dan mereka berkesempatan menimba ilmu dari para Shahabat Nabi yang masih hidup

Adapun Generasi Tabi’it Tabi’in adalah generasi ketiga dari sejarah umat Islam dimana mereka tidak sempat bertemu dengan para Shahabat Nabi oleh karena para Shahabat Nabi itu telah wafat. Namun mereka berkesempatan menimba ilmu dari para Tabi’in serta beriman kepada ilmu yang sampai kepada mereka dari para Tabi’in itu dan beramal dengannya serta mati di atas Islam.

Dalam konteks pengertian Tabi’in dan Tabi’it Taabi’in sebagaimana di jelaskan di atas, ahlul bid’ah tidaklah termasuk kalangan Tabi’in dan tidak pula termasuk Tabi’it Taabi’in meskipun mereka bertemu para Shahabat Nabi serta mengambil ilmu dari padanya. Namun mereka tidak beriman kepada ilmu itu dan tidak beramal dengannya.

Contohnya : seperti tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ Al Yahudi. Dia ini semula adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman kemudian pura-pura masuk Islam di zaman pemerintahan sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu setelah itu dia mengkampanyekan pemahaman ekstrim tentang keharusan mencintai Ahlul Bait. Sehingga dia membikin pemahaman sesat yang menyatakan bahwa sepeninggal Nabi Muhammad sholallahu ‘Alaihi Wa Sallam sepantasnya yang mendapatkan wasiat beliau untuk memegang tampuk pemerintahan adalah Ali bin Abi Thalib.

Namun hak Ali ini telah di dzalimi oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq dan para Shahabat Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah pemahaman yang sesat dan menyesatkan (bid’ah). Tokoh yang seperti ini tidaklah masuk dalam kategori Tabi’in meskipun bertemu para Shahabat Nabi dan mengambil ilmu dari mereka. Namun dia tidak beriman kepada ilmu itu dan terjerumus dalam berbagai kebid’ahan (kesesatan).

Fikri: Terkait disiplin ilmu, apakah ada rekomendasi secara khusus dari Allah dan RasulNya tentang ketiga generasi tersebut, sehingga kita mempunyai kepastian rujukan dalam metodologi pemikiran ilmu-ilmu agama ?

USTADZ: telah kita dapati rekomendasi dan bahkan perintah dari Allah dan RasulNya untuk kita merujukkan pemahaman kita tentang Islam kepada tiga generasi tersebut. Rekomendasi dan perintah Allah serta RasulNya itu terdapat didalam Al Qur’an dan As Sunnah sebagai berikut ini :

Baca Juga :