Pendidikan

Para Shahabat Nabi dan generasi sesudahnya sebagai sebaik-baik ummat

Para Shahabat Nabi dan generasi sesudahnya sebagai sebaik-baik ummat

Para Shahabat Nabi dan generasi sesudahnya sebagai sebaik-baik ummat

Fikri: Para Shahabat Nabi dan generasi sesudahnya sebagai sebaik-baik ummat dalam interpretasinya terhadap nash, apakah perkataan dan perbuatan mereka juga di kategorikan hujjah yakni termasuk dalil dalam agama?

USTADZ: Dalil agama itu didalam Islam hanyalah Al Qur’an dan Al-Hadits adapun selain Al-Qur’an dan Al Hadits bisa salah dan bisa benar, termasuk perkataan para Khulafaurrasyidin dan para Shahabat Nabi juga bisa salah dan bisa benar. Yang benar yang mencocoki Al Qur’an dan As Sunnah dan yang salah adalah yang menyelisihi keduanya. Namun, kita telah mendapatkan kepastian dari Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam sabda beliau : (tulis hadisny)

“Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan”. (Al-Baihaqi dalam sunannya)

Maka dengan hadits ini, telah pasti bahwa bila para Shahabat Nabi itu atau para Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in berbuat salah dalam memahami dan menafsirkan agama, pasti akan tampil orang-orang dari kalangan mereka membantah kesalahan itu dan meluruskannya kembali kepada Al-Qur’an dan As Sunnah, sehingga tidak mungkin ada satu kesalahan pun dari mereka kecuali kita dapati bantahannya dari kalangan mereka juga. Contohnya : ketika Umar bin Al-Khoththob sebagai salah seorang khulafaurrasyidin yang melarang adanya Haji Tamattu’ dan memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk melaksanakan Haji Ifrad, larangan beliau ini dibantah oleh ‘Ali bin Abi Thalib, Hudzaifah bin Al-Yaman, dan Ibnu Mas’ud. Karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam sangat mengutamakan Haji Tamattu’.

Ketika Utsman bin Affan melakukan sholat Dzuhur dan Ashar di Mina dalam rangkaian manasik haji beliau melakukannya dengan empat raka’at masing-masing nya dan tidak meng-qoshornya, beliau sebagai salah seorang khulafaurrasyidin namun tindakan beliau demikian di tentang oleh Abdulllah bin Mas’ud dan para Shahabat yang lainnya. Karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam meng-qoshor sholat Dzuhur, Ashar dan Isya’ di Mina.

Ketika Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu menghukum Abdullah bin Saba ‘ dan pengikutnya dengan hukuman bakar hidup-hidup, hukuman ini di tentang oleh Abdullah bin Abbas karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang kita menghukum dengan membakar hidup-hidup.

Ketika Marwan bin Hakam sebagai gurbernur kota Madinah dalam masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu, menjalankan sholat ‘Ied dengan mengeluarkan mimbar dilapangan dan mendahulukan khutbah sebelum sholat, hal ini ditentang keras oleh Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Mas’ud Al-Anshori radhiyallahu’anhuma di depan umum karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak mengeluarkan mimbar ke lapangan dalam sholat ‘Ied dan mendahulukan sholat sebelum khutbah. Marwan bin Hakam adalah salah seorang Imam dari kalangan Tabi’in.

Ketika Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud dan Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhum berpendapat bahwa Nikah Mut’ah itu halal dan tidak diharamkan sampai hari kiamat. Pendapat ini di tentang keras oleh Umar bin Al-Khoththob radhiyallahu ‘anhu dan bahkan beliau mengancam kalau mereka menjalani nikah mut’ah akan di hukum rajam sebagai pezina yang telah berstatus pernah menikah. Karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengharamkan nikah mut’ah dengan tegas sampai hari kiamat. Nikah Mut’ah itu ialah nikah yang dilakukan oleh seorang pria terhadap seorang wanita yang dilafadzkan dalam Ijab-Qabul pernikahannya dengan masa tertentu (hari, pekan, bulan, atau tahun, red) berlakunya dan berlangsung ikatan pernikahan tersebut. Dan bila habis masa yang disebutkan dalam Ijab-Qobul itu maka ikatan pernikahan itu pun akan terputus secara otomatis. Nikah yang demikian telah di haramkan oleh Nabi ketika perang Khaibar dan ketika Fat-hu Makkah serta ketika Hajjatul Wada’.

Masih banyak contoh lagi kasus-kasus fatwa yang menyelishi Al-Qur’an dan As Sunnah yang segera di tentang di zaman Shahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in. Maka yang mengatakan salahnya fatwa seorang Shahabat atau Tabi’in dan Tabi’it Tab’in, bukanlah kita di generasi ini. Akan tetapi yang menyatakan dan menilai kesalahan itu adalah orang-orang yang hidup di zaman generasi mereka dan tentunya memiliki ilmu yang selevel dengan mereka. Sehingga kita dengan tenang dapat melaksanakan perintah Nabi untuk merujukkan pemahaman kita terhadap agama ini kepada pemahaman tiga generasi utama itu, selama tidak ada riwayat penentangan terhadap penafsiran tersebut.

Sumber : https://aziritt.net/