Pendidikan

KAPASITAS SUATU NEGARA DALAM MEMBIAYAI PINJAMAN LUAR NGERI

KAPASITAS SUATU NEGARA DALAM MEMBIAYAI PINJAMAN LUAR NGERI

KAPASITAS SUATU NEGARA DALAM MEMBIAYAI PINJAMAN LUAR NGERI

Dalam menarik pinjaman luar negeri

negara harus mampu mengukur kapasitasnya di dalam membayar kembali pinjamannya. Dalam jangka pendek kapasitas tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi dalam bidang ekspor dan impor. Dalam jangka panjang, kapasitas negara tersebut sulit ditentukan karena adanya kesulitan di dalam menentukan hasil perkembangan ekonomi yang sebagaian dibiayai dengan pinjaman luar negeri.

Pinjaman luar negeri harus digunakan secara self liquiditing atau self finance (membiayai sendiri), sehingga dalam waktu tetentu dapat menghasilkan barang-barang yang kemudian dapat menarik pendapatan devisa dengan mengekspor hasil tersebut ataupun menghemat devisa yang digunakan yang nantinya dapat dignakan utuk membayar kembali pinjaman luar negeri. Kesulitan yang dihadapi oleh self finance itu apabila pinjaman yang berwujud barang, terlebih lagi kalau barang itu kurang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh negara peminjam. Self finance ini penggunaanya kurang berhasil. Dalam hubungannya dengan self finance credit negara sedang berkembang memusatkan investasinya dalam bidang industri ekspor, substitusi impor atau barang yang sama sekali baru untuk dijual pada pasar dalam negeri.

Terdapat hubungan yang erat dari sektor

yang merupakan sumber devisa yaitu sektor ekspor, sektor substitusi impor dan sektor pinjaman luar negeri. Pinjaman luar negeri dapat digunakan untuk mendorong timbulnya industri substitusi impor yang selanjutnya dapat mendorng timbulnya industri ekspor dan menikkan jumlah ekspor. Dengan industri substitusi impor berarti ada penghematan devisa. Timbulnya industri ekspor dan naikknya jumlah ekspor maka pendapatan devisa akan meningkat. Dapat pula terjadi yaitu saat pengembalian pinjaman telah tiba dan harus segera dibayar, maka industri substitusi impor dan industri ekspor dapat digunakan untuk membiayai pembayaran kembali pokok pinjaman beserta bunganya.

F.     SUBSITUSI IMPOR DALAM INFLASI

Inflasi mempunyai pengaruh positif dan negative.Pengaruh positif adalah pengaruh yang membawa perbaikan baik dibidang ekonomi maupun non ekonomi. Bagi negara berkembang inflasi dapat membawa dampak positif. Namun bagi negara berkembang belum tentu membawa dampak positif karena:

  1. Kekurangan wiraswasta,
  2. Sedikit sekali mempunyai kapasitas lebih dan pabrik-pabriknya dan juga tidak tersediabahan baku serta suku sadang,
  3. Biasanya iflasi tidak dibarengi oleh investasi yang spekulatif dan komersial,
  4. Pendapatan negara berkembang umumna rendah.

Negatifnya inflasi sangat mempengaruhi terhadap:

  1. Struktrur harga: Imbangan harga yang satu dengan yang lain
  2. Investasi dan Konsumsi: Investasi akan bersifat non produktif materiil dan terhadapkonsumsi semakin memperlebar celah perbedaan tingkatkonsumsi antara golongan masyarakat yang katya dengan yang miskin
  3. Perniagaan Internasioal: Inflasi menimbulkan dispritas harga yang akan menghambat pelaksanaan induntrialisasi karena barang-barang  hargnya selalu menurun
  4. Distribusi Penghasilan dan Kekayaaan: Karena inflasi mengakibatkan kenaikan harga, hal ini akan menyebaakna adanya pergeseran dalam pembagian penghasilan dalam masyarakat.Dalam keadaan inflasi,negara sedang berkembang tidak mngkin melaksanakan industrialisasiatau menciptakan barang-barang subsutisi impor

Baca Juga :